Jasmine Belajar untuk Mengubah Kebiasaan Kecil

Jasmine Belajar untuk Mengubah Kebiasaan Kecil

Tanpa disadari orang tua, kebiasaan-kebiasaan kecil yang terbentuk di rumah sering kali ikut memengaruhi perilaku anak saat ia berada di luar lingkungan keluarganya. Hal inilah yang perlahan dipelajari oleh salah satu anak sanggar belajar School of Life Pahomba, Jasmine Vanesa Yoli (7 tahun), ketika ia menjalani proses bertumbuh dan belajar tentang kejujuran.

Vanesa adalah siswi kelas 2 SD di SDM Pahomba. Ia merupakan anak ketiga dari lima bersaudara yang lahir dari keluarga petani. Karena jarak sekolah yang cukup jauh dari rumah orang tuanya, Vanesa harus tinggal bersama tantenya di Pahomba. Bagi anak seusianya, hidup terpisah dari orang tua dan beradaptasi dengan lingkungan baru tentu bukan hal yang mudah.

Sejak kecil, Vanesa terbiasa dimanjakan orang tuanya. Jika ingin jajan, permintaannya sering dipenuhi. Kebiasaan ini tanpa disadari membentuk pemahaman yang keliru tentang batasan. Ketika tinggal bersama tante, Vanesa pernah mengambil uang tanpa izin. Awalnya tidak ketahuan, hingga akhirnya terlihat dari kebiasaan Vanesa yang sering jajan dan membelikan teman-temannya.

Tantenya memilih pendekatan yang tenang. Vanesa tidak dimarahi, tetapi diajak berbicara dan diminta jujur. Setelah diberi pemahaman bahwa berbohong dan mengambil milik orang lain adalah hal yang salah, Vanesa akhirnya mengakui perbuatannya. Ia bahkan mengembalikan uang yang masih tersisa. Kejujurannya dihargai, dan momen itu menjadi titik awal perubahan.

Proses ini diperkuat ketika Vanesa mengikuti kelas School of Life. Dalam materi “Tubuhku untuk Kemuliaan Tuhan”, anak-anak diajak memahami bahwa setiap anggota tubuh diciptakan Tuhan untuk melakukan hal yang baik, bukan untuk menyakiti, berbohong, atau mencuri. Materi ini disampaikan tanpa menyudutkan siapa pun, tetapi mengajak anak-anak berefleksi bersama.

Saat ditanya di kelas, Vanesa dengan berani mengangkat tangan dan mengaku bahwa ia pernah mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Tidak ada ejekan. Sebaliknya, kejujurannya diapresiasi. Dari sana, Vanesa mulai memahami bahwa berkata jujur membawa kelegaan. “Rasanya lega dan damai di hati,” katanya.

Perubahan itu juga dirasakan oleh orang tuanya. Mereka mengakui sempat kecewa, namun bersyukur karena Vanesa tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama. Kini, Vanesa tetap aktif mengikuti School of Life, berani memimpin doa, dan tidak menarik diri dari lingkungan sosialnya.

Pendampingan yang konsisten, nilai kejujuran yang diajarkan dengan kasih, serta ruang aman untuk bertumbuh menjadi bagian penting dalam perjalanan Vanesa. Dari seorang anak yang pernah salah melangkah, Vanesa kini belajar berjalan lebih teguh, dengan hati yang jujur dan sikap yang terus dibentuk hari demi hari.

Share berita baik ini yuk!