Banjir bandang dan longsor yang terjadi sejak 24-25 November 2025 di Sumatera Utara kini ditetapkan sebagai Status Darurat Bencana Provinsi. Terdapat 7 wilayah yang terdampak, yaitu Pakpak Bharat, Padang Sidempuan, Tapanuli Utara, Sibolga, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Mandailing Natal. Hingga hari ini, akses utama menuju wilayah terdampak seperti Tapanuli Tengah dan Sibolga masih terputus total.
Dilansir dari website BMKG, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani melaporkan, kondisi perairan hangat di Selat Malaka memberi suplai energi besar bagi terbentuknya awan konvektif di kawasan utara Sumatra. Saat ini pusat Siklon Tropis Senyar berada di sekitar 5.0° LU dan 98.0° BT dengan tekanan minimum 998 hPa serta angin maksimum mencapai 43 knot (80 km/jam).
Faisal menjelaskan bahwa dalam 24 jam ke depan, siklon masih akan bergerak ke arah barat–barat daya dan melintas di wilayah Aceh dengan kecepatan sekitar 7 km/jam. BMKG memprediksi intensitas siklon akan mulai menurun dan berubah menjadi Depresi Tropis dalam 48 jam.
Meski melemah, dampak cuaca ekstrem tetap mungkin terjadi. Wilayah Aceh, Sumatra Utara (Sumut), Kepulauan Riau, Riau, dan Sumatra Barat (Sumbar) perlu mewaspadai potensi banjir, angin kencang, maupun bahaya hidrometeorologi lain selama dua hingga tiga hari ke depan.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menyebutkan bahwa Senyar memicu hujan sangat lebat hingga ekstrem di Aceh dan Sumut, serta hujan sedang hingga lebat di sebagian Sumbar dan Riau. Selain itu, angin kencang berpeluang terjadi di beberapa wilayah tersebut, bahkan memicu gelombang laut setinggi:
Pemantauan terus dilakukan melalui Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta, sejak sistem ini masih berupa bibit. BMKG mengakui bahwa kejadian seperti ini tergolong jarang terjadi di sekitar Selat Malaka, terlebih jika sistemnya bergerak mendekati daratan.
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menambahkan bahwa meski Indonesia berada dekat garis ekuator, zona yang umumnya tidak mendukung terbentuknya siklon—dalam lima tahun terakhir semakin banyak siklon tropis yang melintas dekat wilayah Indonesia dan menimbulkan dampak nyata.
“Fenomena seperti Siklon Tropis Senyar cukup tidak lazim untuk perairan Selat Malaka. Karena itu, kesiapsiagaan masyarakat sangat penting selama sistem ini masih aktif,” ujar Andri.
BMKG mengimbau pemerintah daerah, warga, nelayan, dan pelaku transportasi laut untuk waspada terhadap ancaman lanjutan berupa banjir, banjir pesisir, tanah longsor, pohon tumbang, hingga gelombang tinggi yang dapat mengganggu aktivitas pelayaran.
Faisal menekankan bahwa informasi ini tidak bertujuan menimbulkan kepanikan, melainkan mendorong kesiapan masyarakat. Ia meminta warga tetap tenang dan hanya mengikuti informasi resmi BMKG.
“Peringatan dini ini penting agar tindakan mitigasi dapat dilakukan sedini mungkin. Dengan prinsip awas, siaga, selamat, kami berharap langkah cepat dapat meminimalisir kerusakan dan korban jiwa. Early warning harus menjadi early action menuju zero victim,” tutupnya.
© Copyright 2024
Obor Berkat