Dari Langkah Kecil Karunia, Tumbuh Karunia yang Besar

Karunia Sampelino, atau akrab dipanggil Nia, adalah siswi kelas 4 SD yang tinggal bersama ibu dan adiknya di Tanete, Tana Toraja. Sementara sang ayah merantau ke Kalimantan untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Tahun lalu, Nia sempat tidak naik kelas karena belum lancar membaca, kekurangan yang membuatnya sering tidak mengerjakan PR sampai dihukum berdiri di depan kelas. Perasaan tidak percaya diri pun muncul, apalagi saat ia menjadi bahan ejekan teman-temannya.

Namun, titik balik terjadi saat Nia belajar di sanggar School of Life (SoL) GBI Nafiri Sion Tanete. Dalam materi “Self Awareness”, guru-guru di sana mengajarkan Nia untuk mengenal emosi dan menerima diri. Perlahan Karunia mulai rajin belajar, dan yang lebih penting ia belajar untuk memaafkan, memaafkan dirinya dan juga teman-temannya.

Nia kini menyukai pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris, bahkan ia bercita-cita menjadi polwan, profesi yang menurutnya bisa menjadi jalan untuk menolong sesama, sebagaimana ia pernah menerima pertolongan.

Dalam psikologi anak, teori Erik Erikson, pengalaman pahit memang bisa membentuk arah hidup jika didampingi dengan tepat. Cita-cita Nia adalah wujud dari keberaniannya mengubah luka menjadi kekuatan. Semoga mimpi Nia menjadi polwan bukan hanya harapan, tetapi akan menjadi kenyataan. Karena setiap anak berhak untuk bangkit, bermimpi, dan diberi kesempatan yang sama untuk tumbuh.

Share berita baik ini yuk!