Pikiran negatif tentang diri sendiri, seperti merasa tidak mampu, dapat sangat memengaruhi rasa percaya diri seseorang. Hal inilah yang dulu dirasakan oleh Carmelita Kezia, seorang anak berusia 12 tahun yang dikenal sebagai anak pemalu, pendiam, dan sering merasa minder. Akibat tidak ada rasa percaya diri itu, ia selalu kesulitan dalam bersosialisasi dan hanya punya dua orang teman.
Bahkan rasa minder ini mempengaruhi akademisnya. Ia selalu merasa pelajaran matematika sulit dipahami dan tidak menyenangkan. Akibatnya nilai matematika Kezia tidak memuaskan, berbanding terbalik dengan pelajaran favoritnya, bahasa inggris. “Soalnya Matematika susah...” ungkapnya. Sedangkan jika Kezia tidak memahami pelajaran tersebut, ia akan memilih untuk diam karena malu bertanya.
Kezia adalah salah satu siswa di sanggar belajar School of Life Perbalan, Purwosari, Semarang Utara. Orang tua mereka kebanyakan bekerja sebagai pedagang kecil, pemulung, buruh, dan pekerja informal lainnya dengan penghasilan harian berkisar Rp 40.000 – Rp 70.000. Penghasilan yang terbatas ini membuat mereka kesulitan membiayai pendidikan anak-anaknya, termasuk untuk membeli perlengkapan sekolah dan membayar les tambahan yang dibutuhkan untuk menunjang pembelajaran.
Demikian juga dengan keluarga Kezia. Ayahnya bekerja sebagai satpam di sebuah SMA, sementara ibunya membuka warung kecil di rumah. Penghasilan tersebut harus digunakan untuk menghidupi Kezia dan 5 saudaranya yang lain. Tentu tak mudah bagi keluarga ini untuk memastikan semua anak mendapatkan pendidikan yang layak dalam kondisi ini.
Namun kehadiran Sanggar Belajar School of Life di komunitas Desa Perbalan adalah jawaban doa orang tua Kezia. Di mana tempat ini dapat membantu akademik anak-anak, serta membimbing pertumbuhan karakternya secara gratis.
Seiring berjalannya waktu, tepat empat tahun Kezia mengikuti sanggar belajar ini mulai merubah Kezia. Ia mulai berani bertanya kepada guru jika ada hal yang tidak dimengerti. Nilai pelajaran matematika yang dulu ia tidak sukai, kini sudah mulai meningkat.
Bahkan secara perlahan, Kezia yang dulu pemalu, juga mulai berani bersosialisasi dan terlibat dalam aktivitas menari rebana di gereja meskipun ia mengaku tidak terlalu pandai menari. Namun, ia tak menyerah—ia ingin belajar dan berkembang lebih jauh. Perubahan ini didukung oleh tutor sanggar belajar dan pembelajaran dari materi kurikulum School of Life mengenai “Self Awareness”.
Perjalanan perubahan Kezia adalah bukti nyata bagaimana pendidikan dan lingkungan yang mendukung dapat membantu anak-anak berkembang dan menemukan potensinya. Namun, masih banyak anak seperti Kezia yang membutuhkan kesempatan yang sama.
Sanggar Belajar School of Life telah menjadi bagian dari perjalanan mereka dan dengan dukungan Anda, lebih banyak anak bisa mendapatkan bimbingan yang mereka butuhkan untuk tumbuh dan percaya diri menghadapi masa depan. Mari bersama kita bantu anak-anak seperti Kezia untuk terus belajar, berkembang, dan meraih mimpi mereka. Dukungan Anda, sekecil apa pun, bisa membuat perubahan besar bagi mereka.
© Copyright 2024
Obor Berkat