Tepat 20 tahun yang lalu, gempa bumi meluluhlantakan Pulau Nias dan sekitarnya. Gempa bumi dengan kekuatan sebesar 8,7 skala Richter masih terasa sangat jelas dalam ingatan masyarakat.
Belum genap setahun setelah Indonesia berduka akibat gempa dan tsunami di Aceh, tanah air kembali terpukul oleh gempa yang mengguncang Nias pada Maret 2005. Kala itu, sebagian besar warga Nias merasa khawatir setelah mendengar peristiwa di Aceh. Sebab gempa tsunami Aceh juga berdampak di Nias Barat, khususnya di Kecamatan Sirombu dan Lahewa. Hingga kini, kejadian itu masih meninggalkan trauma dan kekhawatiran. Saat terjadi gempa besar, seluruh pulau panik karena takut tsunami seperti di Aceh akan terulang.
Pada malam 28 Maret 2005, sekitar pukul 23.09, gempa besar mengguncang Pulau Nias. Suasana mencekam langsung meliputi seluruh wilayah. Banyak warga terjebak di bawah reruntuhan bangunan, sementara gempa susulan terus mengancam. Pemerintah awalnya memperkirakan korban tewas mencapai 2.000 orang, namun data akhir mencatat 598 orang meninggal, 49 orang luka berat, 585 luka ringan, dan lebih dari 45.000 orang mengungsi.
Di balik 170 ribu orang meninggal, sekitar 2.000 sekolah yang mengalami kerusakan dan kehilangan 2.500 guru, meninggalkan luka mendalam bagi para murid yang selamat dengan kerugian yang sulit dihitung. Serta 3.000 kilometer jalan yang rusak sehingga memutus akses penting dan menghilangkan peluang ekonomi masyarakat.
Keadaan semakin diperburuk dengan isu tenggelamnya Pulau Nias, sehingga banyak warga memilih meninggalkan rumah mereka menuju wilayah yang dianggap aman, seperti Sibolga di Pulau Sumatera.
Sejak kejadian Gempa di Nias 20 tahun lalu, masyarakat perlahan mulai bangkit dan berkembang. Berkat bantuan dari berbagai organisasi non-pemerintah (NGO), relawan, dan Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Nias-Aceh, masyarakat Nias mulai membuka diri terhadap kemajuan.
Pendidikan yang mulai membaik di beberapa daerah, terutama di kota besar mulai terlihat. Semakin banyak anak Nias yang dapat bersekolah. Obor Berkat Indonesia pun turut mendukung pendidikan di daerah ini dengan membangun Sekolah Swasta OBI Fodo Gunungsitoli.
Baca Juga : Peresmian Gedung Sekolah OBI Nias, Siap Jangkau Banyak Anak
Melanjutkan komitmen ini, pada Maret 2025 mendatang, OBI akan memperlengkapi pendidikan tanggap darurat bagi guru dan anak sekolah di Nias. Dalam kegiatan ini, anak-anak juga akan menerima Tas Emergency mini yang praktis untuk membantu mereka menghadapi situasi darurat.
Anda juga bisa berpartisipasi dalam mendukung anak-anak sekolah OBI Nias dengan berdonasi melalui OBI. Donasi Anda akan membantu menciptakan generasi yang lebih siap menghadapi bencana di masa depan.
© Copyright 2024
Obor Berkat