Berkenalan dengan Kondisi Intoleransi Latoksa

Intoleransi Laktosa: Gejala dan Penyebabnya?

Intoleransi laktosa adalah kondisi di mana tubuh tidak mampu mencerna laktosa, yaitu gula alami yang ada pada susu dan produk olahannya. Hal ini terjadi karena tubuh kekurangan enzim laktase. Enzim ini yang berfungsi memecah laktosa menjadi glukosa dan galaktosa agar dapat diserap dengan baik.

Studi selama dua dekade terakhir di Indonesia menunjukkan prevalensi malabsorpsi laktosa pada anak-anak cukup tinggi, terutama seiring bertambahnya usia. Pada anak-anak sekolah pra-sekolah dasar (3-5 tahun) sebesar 21,3%, anak sekolah dasar (6-11 tahun) 57,8%, dan sekolah menengah pertama (12-14 tahun) 73%.

Penyebab Intoleransi Laktosa

Ada beberapa faktor yang menyebabkan intoleransi laktosa, seperti :

  • Genetik : Faktor genetik merupakan penyebab utama dari kondisi ini. Beberapa kelompok etnis, seperti orang Asia, Afrika, dan Amerika Latin cenderung memiliki prevalensi intoleransi laktosa yang lebih tinggi.
  • Kondisi medis tertentu : Penyakit, seperti penyakit celiac, penyakit Crohn, atau gastroenteritis, dapat merusak lapisan usus kecil dan mengurangi produksi enzim laktase.
  • Usia : Produksi enzim laktase secara alami menurun seiring bertambahnya usia.

Gejala dan Diagnosis Intoleransi Latoksa

Gejala pada kondisi ini biasanya muncul antara 30 menit hingga 2 jam setelah mengonsumsi produk yang mengandung laktosa. Berikut ini gejala yang umum dirasakan :

  • Kram perut
  • Gangguan pencernaan : Perut kembung, nyeri perut, diare, dan sering buang angin.
  • Mual dan muntah

Untuk mendiagnosis kondisi ini, dapat dilakukan beberapa tes seperti tes intoleransi laktosa, tes hidrogen dalam napas, atau dalam kasus yang jarang, biopsi usus.

Penanganan Intoleransi Laktosa

Walaupun tidak ada obat untuk menyembuhkan kondisi ini, gejala dapat diatasi dengan cara mengurangi konsumsi makanan yang mengandung laktosa atau mengambil suplemen enzim laktase. Selain itu, penggunaan probiotik juga dianggap dapat membantu meredakan gejala.

Segera periksakan diri ke dokter jika Anda atau anak Anda menunjukkan gejala-gejala tersebut setelah mengonsumsi susu atau produk olahannya. Sangat penting untuk memastikan bahwa gejala tersebut bukan disebabkan oleh alergi terhadap protein susu sapi, sindrom iritasi usus besar, peradangan usus, atau penyakit Celiac.

Jika Anda atau anak Anda didiagnosis menderita intoleransi laktosa, konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi untuk menggantikan asupan protein dan nutrisi dari susu.

Referensi :

Hegar B, Widodo A. Lactose intolerance in Indonesian children. Asia Pac J Clin Nutr. 2015;24 Suppl 1:S31-40. doi: 10.6133/apjcn.2015.24.s1.06. PMID: 26715082.

Share berita baik ini yuk!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *