Viral: Bullying oleh Geng Anak Sekolah Kembali Berulah, Pola Asuh Orang Tua Menjadi Sorotan

Aksi perundungan yang dilakukan sekelompok geng anak sekolah kembali terkuak. Menurut pengakuan dari keluarga korban, perundungan tersebut dilakukan sebagai bentuk ‘ospek’ terhadap anggota geng baru. Namun bentuk ‘ospek’ atau yang mereka sebut dengan pelatihan mental ini, malah menjadi sebuah penganiayaan sadis.

Tidak hanya diminta untuk menjadi seorang pesuruh, ‘calon anggota geng’ ini juga menerima berbagai bentuk kekerasan fisik yang disaksikan oleh anggota geng lainnya. Pasalnya salah satu pelaku bullying merupakan anak dari seorang publik figur yang dikenal sebagai orang yang sangat anti dengan tindak bullying. Tidak sedikit netizen mengomentari pola asuh yang dilakukan oleh publik figur ini. Lantas jika anak sudah bertindak sejauh ini, apakah orang tua dapat disalahkan?

Sebagian besar orang tua akan membebaskan anak-anaknya untuk bergaul dengan siapapun. Lalu apa yang orang tua harus lakukan untuk menghindari kejadian serupa terulang kembali?

Cara Mengawasi Lingkup Pergaulan Anak

Memperhatikan lingkup pergaulan anak adalah hal yang penting, tetapi juga harus dilakukan dengan bijak agar anak tidak merasa terkekang atau tidak percaya pada orang tua. Berikut adalah beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk membatasi pergaulan anak tanpa membuat mereka merasa terkekang :

  • Jadilah orang tua sekaligus sahabat bagi anak. Tunjukkan rasa sayang, perhatian, dan pengertian Anda kepada anak. Berikan kebebasan yang sesuai dengan usia dan tanggung jawab anak. Dengarkan dan hargai pendapat dan perasaan anak. Ajak anak berkomunikasi secara terbuka dan jujur.
  • Bersikap ramah pada setiap teman-teman anak. Kenali teman-teman anak dan orang tua mereka. Berikan kesempatan dan ruang bagi anak untuk berinteraksi dengan teman-temannya. Jangan langsung menilai atau menghakimi teman-teman anak tanpa alasan yang jelas. Berikan masukan yang positif dan konstruktif tentang teman-teman anak.
  • Tanamkan hal-hal baik pada anak. Ajarkan anak tentang nilai-nilai yang baik, norma-norma yang berlaku, dan bahaya-bahaya yang mengancam. Berikan contoh yang baik kepada anak tentang bagaimana bersikap dan berperilaku dengan teman. Bimbing anak untuk memilih teman yang baik, mengatasi masalah dengan teman, dan mengembangkan keterampilan sosial yang positif.
  • Berikan batasan yang jelas dan wajar. Jelaskan kepada anak mengapa Anda memberikan batasan tertentu, seperti waktu, tempat, dan aktivitas yang boleh dan tidak boleh dilakukan dengan teman. Berikan konsekuensi yang adil dan konsisten jika anak melanggar batasan tersebut. Jangan membatasi pergaulan anak secara berlebihan atau tanpa alasan yang jelas.

Ciri-ciri Pelaku Bullying

Dilansir dari Kompas.com, bedasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Save the Children pada tahun 2020, sekitar 40 persen orang tua di Indonesia tidak mengetahui bahwa anak mereka menjadi pelaku bullying di sekolah1. Penelitian ini melibatkan 1.000 orang tua dan 1.000 anak usia 10-17 tahun di 10 kota besar di Indonesia. Maka dari itu, orang tua diminta untuk lebih peka terhadap perilaku anak.

Berikut ini adalah ciri-ciri anak yang memiliki kecenderungan sebagai pelaku bullying :

  • Mempunyai sikap hiperaktif, impulsif, aktif dalam gerak, dan merengek, menangis berlebihan, menuntut perhatian, tidak patuh, menantang, merusak, ingin menguasai orang lain.
  • Mempunyai temperamen yang sulit dan masalah pada atensi/konsentrasi, dan hanya peduli terhadap keinginan sendiri.
  • Sulit melihat sudut pandang orang lain dan kurang empati.
  • Mempunyai rasa percaya diri yang rendah atau tinggi.
  • Mempunyai masalah di rumah, seperti kekerasan dalam keluarga, kurangnya perhatian, atau kurangnya pengawasan.
  • Mempunyai akses informasi ke media sosial yang kurang pengawasan.
  • Mempunyai teman sebaya yang juga melakukan bullying atau mendukung perilaku bullying.

Kesimpulan

Perundungan di sekolah menjadi isu serius, terutama ketika dilakukan sebagai bentuk ‘ospek’ yang berujung pada penganiayaan. Orang tua memiliki peran penting dalam membatasi pergaulan anak tanpa menghambat kebebasan mereka. Komunikasi terbuka, kenalan dengan teman anak, dan pembatasan yang jelas diperlukan. Ciri-ciri pelaku perundungan juga perlu diperhatikan, termasuk sikap dan lingkungan keluarga. Orang tua perlu meningkatkan kesadaran terhadap perilaku anak, terutama terhadap tanda-tanda kecenderungan menjadi pelaku perundungan.

Share berita baik ini yuk!