Di sebuah kota kecil yang tenang, ada seorang anak berusia sembilan tahun yang penuh dengan energi. Namanya adalah Anisa. Ia adalah anak yang sangat aktif, selalu bersemangat untuk bermain dan menjelajahi dunia di sekitarnya. Namun, jika ditanya tentang belajar, ekspresi wajahnya akan berubah. Ia akan mengernyitkan dahinya, seakan-akan dunia belajar adalah sesuatu yang harus dihindari.
Matematika dan Bahasa Inggris adalah dua pelajaran yang paling membuat Anisa gelisah. Ia merasa bahwa kedua mata pelajaran ini terlalu sulit baginya. Mungkin itulah mengapa ia sering bolos mengikuti sanggar belajar anak bernama SOL (School Of Life) setelah pulang dari sekolah. Alasannya sederhana, ia merasa lelah dan enggan harus berurusan dengan pelajaran yang dianggapnya “menakutkan” itu.
Suatu hari, tutor Anisa dari SOL datang berkunjung ke rumahnya. Ibunya, dengan nada prihatin, menceritakan bahwa anaknya tidak memiliki minat dalam Matematika dan Bahasa Inggris. Anisa menganggap keduanya terlalu rumit untuk dipahami. Tetapi di sekolah, ia harus menghadapinya karena nilai-nilai pelajaran ini akan berpengaruh pada hasil ujian akhirnya. Oleh karena itu, ibunya memutuskan untuk mendaftarkan Anisa ke SOL Perjuangan di Tanah Merah, Jakarta Utara.
“Anakku tidak suka belajar Matematika dan Bahasa Inggris, Kak. Katanya sulit, tapi di sekolah ada pelajarannya. Pasti akan berdampak pada nilai semester,” kata ibu Anisa dengan cemas.
Anisa memang sering merasa kesulitan ketika harus berhitung. Awalnya, ia sering salah menghitung angka, bahkan sampai seratus. Ibunya berusaha keras untuk mengajaknya belajar, tetapi Anisa merasa kesulitan memahaminya, terutama karena di sekolah ada begitu banyak anak dalam satu kelas. Meskipun Anisa agak enggan, ibunya tetap bersikeras dan mengirimnya ke bimbingan belajar.
Perubahan dalam hidup Anisa dimulai pada saat mereka mempelajari self-awareness di kelas SOL. Mereka diajarkan untuk mengenal diri sendiri, mengidentifikasi kelemahan, kecenderungan, dan keinginan masing-masing. Saat giliran Anisa bicara, ia dengan jujur mengatakan bahwa ia tidak suka pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris karena merasa kedua mata pelajaran itu terlalu sulit baginya. Tutor mereka kemudian menjelaskan betapa pentingnya kedua pelajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
“Matematika akan membantu kita menghitung uang belanja dan menentukan harga barang, sementara Bahasa Inggris akan memungkinkan kita berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai negara dan membuka pintu untuk pekerjaan yang beragam di masa depan,” kata tutor dengan penuh semangat.
Penjelasan ini membuat Anisa mulai memahami betapa pentingnya belajar Matematika dan Bahasa Inggris. Keesokan harinya, saat jadwal bimbingan belajar Matematika di SOL, Anisa akhirnya memutuskan untuk datang dan belajar. Sejak saat itu, ia mulai merasa lebih nyaman dengan pelajaran Matematika, dan perlahan-lahan, Bahasa Inggris pun mulai ia nikmati.
Sekarang, Anisa telah mencapai kelas 3 SD. Di tahun-tahun sebelumnya, ia selalu mendapatkan nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) untuk kedua mata pelajaran tersebut. Namun sekarang, nilai Matematikanya mencapai 85 dan nilai Bahasa Inggrisnya mencapai 83.
Bulan ini, ketika ia bertemu ibunya, Anisa merasa bangga dan senang. Ia telah mengalami peningkatan yang luar biasa dalam pelajaran yang dulu dihindarinya. Ibunya juga tersenyum bahagia.
“Anakku mendapatkan nilai bagus, Kak. Dulu aku sangat khawatir dan bingung bagaimana anakku bisa menghadapi pelajaran Matematika, tapi sekarang dia mendapat nilai 85. Terima kasih atas bimbingannya, Kak. Anakku telah mengalami perubahan setelah mengikuti bimbingan belajar,” ujar ibu Anisa dengan raut senang di wajahnya.
Anisa pun tersenyum puas, merasa bangga dengan dirinya sendiri, dan berterima kasih kepada SOL yang telah membantunya meraih kesuksesan dalam belajar. Dengan semangat dan tekad yang baru, ia siap menghadapi setiap pelajaran yang akan datang dengan keyakinan bahwa ia bisa mengatasinya dengan baik.
© Copyright 2024
Obor Berkat